
Saya mengikuti Tapa Brata 1 karena mentor saya di kantor, Ibu Pepey.
Saya tidak tahu apakah Ibu Pepey ingat, tapi ini adalah ajakan beliau yang ketiga. Dan ketika saya flashback, ajakan-ajakan itu selalu datang di momen ketika hidup saya sedang tidak baik-baik saja. Tapi mungkin memang baru ajakan ketiga ini yang berjodoh.
Waktu itu saya sedang bergulat dengan GERD dan panic attack yang sudah berlangsung cukup lama. Bisa dibilang, saya bolak-balik ke IGD tengah malam. Sampai akhirnya pada Maret 2026, saya sempat dirawat di rumah sakit. Karena ingin menuntaskan akar dari semua ini, saya akhirnya memberanikan diri ikut Tapa Brata 1.
Tentu saja banyak yang meragukan kemampuan saya untuk bertahan. Tidak bicara selama 7 hari. Tidak pegang handphone. Tidak menulis. Tidak membaca. Dan duduk lama bersila.
Saya pun meragukan diri saya sendiri, hehehe. Apalagi saya tidak pernah meditasi sebelumnya. Saya juga tidak tahu harus berharap apa dari kegiatan ini. Yang saya tahu waktu itu cuma satu: saya ingin mencoba.
Hari pertama dan kedua, kami mulai belajar meditasi kesadaran. Kami diajarkan memperhatikan napas melalui hidung, lalu mulai berlatih meditasi tekad kuat selama 45 menit. Dalam meditasi ini, kami diminta untuk tidak bergerak, apa pun yang dirasakan. Kalau sakit, ya disadari. Kalau tidak nyaman, ya dirasakan. Tapi semuanya dilakukan dengan lembut.
Bagi saya, ini tidak mudah. Kaki kanan saya pernah cedera karena jatuh, jadi duduk bersila itu rasanya luar biasa menantang. Sebenarnya disediakan kursi untuk saya. Tapi ketika saya bertanya kepada instruktur tentang efektivitas meditasi, ternyata kalau di kursi proses penyembuhannya bisa lebih lama.
Jadi saya memutuskan untuk tetap belajar bersila. Awalnya sulit sekali. Tapi setelah beberapa hari, kaki kanan saya mulai tidak sesakit di awal. Bahkan sekarang, di hari ke-23 latihan, saya sudah bisa bersila dengan lebih nyaman.
Di awal, saya juga bingung. Apa sih yang harus diperhatikan dari napas? Saya merasa napas saya pendek-pendek. Kadang yang terasa hanya satu lubang hidung. Tapi instruktur bilang, di sini yang diminta hanya memperhatikan, merasakan, dan menerima. Tidak perlu dipikirkan. Tidak perlu direnungkan. Kalau napas terasa pendek, tidak apa-apa. Kalau hanya satu sisi hidung yang terasa, tidak apa-apa. Sadari saja. Terima saja. Pelan-pelan, napas itu memang berubah. Menjadi lebih panjang. Lebih halus. Lebih tenang. Tapi ini prosesnya memang tidak instan, bertahap sampai dengan saat ini.
Hari ketiga, kami mulai diajari meditasi kebijaksanaan. Di sini kami belajar tentang anicca, bahwa segala sesuatu yang berkondisi itu tidak kekal. Kami juga diajak mengenal proses energi baik dan energi buruk. Lalu mulai belajar merasakan organ tubuh dengan lembut, menyadari segala rasa yang muncul dalam raga, dan menerimanya.
Ternyata, Saya tidak menyangka proses tersebut sangat menyakitkan. Awalnya leher saya sakit. Punggung sakit. Kaki sakit. Dada terasa berat, dan perut saya berdenyut panas. Dan intensitas sakitnya semakin menjadi dengan bertambahnya waktu dan hari. Lalu di hari ketiga inipun, saya mulai sering menangis. Saat meditasi, saya menangis. Di kamar pun saya menangis.
Memori-memori lama yang menyakitkan mulai bermunculan tanpa saya minta dan rasanya tidak dapat saya bendung. Bahkan ingatan yang saya sendiri sudah tidak ingat. Salah satunya, ingatan ketika saya kecil pernah dikurung di kamar mandi gelap oleh ART, sambil ditakut-takuti hantu. Sepertinya dari situ asal mula saya takut gelap. Dan ternyata masih ada banyak memori lain yang menyakitkan. Dari hari kedua sampai ketiga, sakit di badan saya makin menjadi. Punggung saya rasanya seperti dipecut. Dada saya seperti ditimpa besi 100 kg. Leher bagian depan sakit sekali.
Bahkan di hari keempat, sekitar jam 3 pagi, tiba-tiba saya bisa mendengar detak jantung saya sendiri dengan sangat keras. Saya seperti melihat jantung saya berdegup dengan jelas. Saya juga merasakan denyut dari kedua ginjal saya.
Jujur, saat itu menakutkan sekali. Rasanya ingin pulang. Tapi untungnya saya tidak bawa kendaraan, mungkin kalau bawa mobil, saya pasti kabur, hehehehe. Dan saya juga ingat pesan Ibu Pepey: jangan sampai beliau mendengar saya kabur, hehehe.
Instruktur kemudian menjelaskan bahwa pengalaman seperti itu wajar, karena tubuh sedang membuang sampahnya. Semua rasa sakit dan memori buruk yang muncul membuat saya sadar satu hal: selama ini saya sudah terlalu abai terhadap diri saya sendiri. Saya terus memenuhi ekspektasi dan harapan orang lain sambil menyimpan luka yang seharusnya saya lepaskan. Saya menyimpan amarah yang seharusnya saya lepaskan. Saya menyimpan kecewa yang semestinya saya hadapi dengan lebih bijaksana. Dan tanpa sadar, saya sudah berlaku tidak adil terhadap diri saya sendiri. Saya tidak cukup bertanggung jawab terhadap tubuh dan batin saya.
Hari keempat, badan masih sakit. Dada masih berat. Tangis juga masih sering datang. Tapi di hari itu kami mulai diajari meditasi penyembuhan. Sepertinya mulai hari kelima, rasa sakit itu pelan-pelan berkurang. Rasa tertekan mulai hilang. Badan mulai terasa lebih ringan. Lalu di hari keenam dan ketujuh, kami mulai diajari meditasi cinta kasih. Di sini Pak Merta mengajarkan kami untuk merasakan kasih dari dada, lalu menyebarkannya kepada keluarga, sahabat, orang netral, dan orang yang bermasalah dengan kita. Saya tidak menyangka rasanya akan sehangat itu. Dada saya seperti penuh sekali dengan rasa kasih. Penuh sampai rasanya tidak cukup ditampung. Seperti mau meledak karena dipenuhi rasa sayang. Badan saya seperti dipeluk oleh kasih yang begitu besar. Saya menangis, tapi bukan karena sakit. Saya menangis karena terharu. Sepertinya sudah lamaaa sekali saya tidak merasa disayang seperti rasa pada saat itu. Di titik itu, memori-memori baik mulai bermunculan. Dan rasanya bahagia sekali.
Setelah pulang, saya sempat bertanya kepada beberapa orang terdekat, apakah mereka merasakan sesuatu yang berbeda selama dua hari terakhir ketika saya berlatih meditasi cinta kasih. Ternyata jawabannya membuat saya terdiam. Suami dan anak saya bilang mereka merasakan kehangatan yang besar di dada. Hangat sekali, sampai awalnya mereka sempat takut. Tapi katanya rasanya enak.
Teman saya yang lain ternyata sedang berada di momen sangat terpuruk saat itu. Dia bukan orang yang mudah menangis, dan sudah lama sekali tidak menangis. Tapi di dua hari itu, dia merasa seperti ada yang memeluknya. Dia menangis haru, dan katanya pengalaman itu membantu dia. Teman saya yang lain lagi sedang berada di taman apartemennya. Dia tidak merasakan apa-apa yang spesifik, kecuali tiba-tiba ingin menangis karena merasa betapa Tuhan mengasihinya.
Ketika saya ceritakan pengalaman ini kepada Pak Martin, instruktur kami, beliau bilang bahwa energi yang kita kirimkan memang bisa dirasakan oleh orang lain. Lalu beliau mengingatkan sesuatu yang sederhana tapi menempel sekali di hati saya. Ternyata berbuat baik itu tidak selalu sulit. Lalu masuklah pesan sponsor dari beliau: oleh karena itu, rajin-rajinlah berlatih menguatkan pikiran baik. Hehehe.
Demikian sepenggal pembelajaran yang saya dapat dari Tapa Brata 1. Setelah TB 1, kami masih melanjutkan latihan meditasi Upaya Baik selama 90 hari. Hari ini sudah memasuki hari ke-23. Puji Tuhan, saya masih konsisten. Semoga saya tetap bisa terus berlatih. Pengalaman ini benar-benar meninggalkan kesan yang dalam bagi saya. Bahkan membuat saya ingin mengulang lagi pengalaman positif ini tahun depan.
Forever grateful to my mentor for this experience. Terima kasih, Ibu Pepey. semoga semua hidup berbahagia. With love, Rike.
